Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis hal blog ini

Saturday, June 28, 2014

Pro-Kontra Sistem Ujian Nasional di Rusia: Sebuah cermin bagi pelaksanaan Ujian Nasional(UN) di Indonesia

Oleh
Anastasia Maltseva
HINGGA satu dekade pascaruntuhnya Uni Soviet, Rusia masih menggunakan sistem pendidikan Soviet. Pada 2001, Rusia mencoba menerapkan sistem pendidikan baru yakni EGE (Ediniy Gosudarstvenniy Ekzamen/Ujian Nasional). Sistem tersebut lalu diberlakukan di seluruh Rusia sejak 2009.

Dalam sistem pendidikan Soviet, pelajar SMA yang baru lulus harus mengikuti ujian masuk perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masing-masing universitas. Siswa hampir tak mungkin mendaftar ke beberapa universitas sekaligus. Kalaupun bisa, semua ujian masuk perguruan tinggi yang mereka incar harus dilaksanakan terpisah. Masalah tersebut terpecahkan sejak pemberlakuan sistem EGE. EGE berfungsi sebagai ujian kelulusan SMA sekaligus ujian masuk perguruan tinggi. Calon mahasiswa berkesempatan mendaftar di beberapa perguruan tinggi sekaligus. Sistem ini membuat persaingan untuk mendapatkan tempat di perguruan tinggi melonjak tajam, namun prosedur penerimaan mahasiswa baru menjadi lebih mudah.


Calon mahasiswa mengerjakan ujian EGE tanpa perlu datang langsung ke perguruan tinggi yang dipilih. Hal ini memberi kemudahan bagi pelajar yang tinggal di luar Moskow, sebab harga tiket pesawat ke ibukota sangat mahal, bahkan kadang jumlahnya sama dengan gaji rata-rata di daerah lain. Tapi untuk perguruan tinggi kesenian, peserta harus hadir langsung menjalani ujian masuk.
Salah satu tujuan utama pelaksanaan EGE adalah menghindari terjadinya tindakan KKN di perguruan tinggi. Sistem ini membuat perguruan tinggi harus menerima mahassiwa baru berdasarkan hasil EGE, bukan berdasarkan ujian masuk mandiri yang rawan transaksi sogok-menyogok atau nepotisme.

Wakil Perdana Menteri Rusia Igor Shuvalov menyebut EGE sebagai “alat bantu peningkatan status sosial”, karena dapat menciptakan pemerataan kesempataan untuk mengenyam pendidikan di universitas ternama.
Masalah Akibat EGE

Warga Rusia tidak terlalu setuju akan penerapan sistem EGE. Kepala Laboratorium Pengendalian Bahasa Fakultas Bahasa Asing Universitas Negeri Moskow Svetlana Ter-Minasova menyatakan bahwa EGE telah menciptakan masalah sejak awal diberlakukan pada sebelas tahun lalu. “Ketika itu EGE dilaksanakan tanpa persiapan yang matang. Para pengajar dan pelajar menjalankan ujian itu dan sebagian dari mereka gagal. Masyarakat pun melancarkan aksi protes,” cerita Ter-Minasova.

Seiring waktu, masalah ketidaksiapan mulai teratasi, namun masalah lain muncul. Ujian kelulusan dan ujian masuk perguruan tinggi digabung dalam EGE, hal ini membuat EGE sangat penting bagi pelajar SMA. Jika mereka gagal dalam ujian tersebut, mereka tidak dapat lulus dari SMA dan tidak bisa mendaftar di perguruan tinggi manapun, sedangkan ujian perbaikan hanya dapat dilakukan pada tahun berikutnya. Oleh karena itu, banyak peserta EGE yang mengalami stress berat menjelang ujian. 
Ketakutan menjelang ujian dan nilai EGE yang rendah menjadi salah satu penyebab bunuh diri bagi pelajar di Rusia. Pada Mei 2006, seorang siswi SMA di Tunkinskiy, Buryatiya gantung diri dan meninggalkan pesan, “Saya tidak sanggup mengikuti EGE”.

Selain itu, EGE dianggap mengubah fokus para guru di sekolah. Mereka tidak lagi mengajar atau mendidik dengan sungguh-sungguh, malah berupaya sekuat tenaga untuk mempersiapkan siswanya mengikuti ujian EGE. Hal ini membuat para guru privat dan bimbingan belajar laku keras.

Ada pula masalah lain yang tak kalah buruk, yakni bocoran soal ujian. Kecurangan dalam ujian EGE sangat rawan dilakukan berkat kemajuan teknologi komunikasi. Para siswa SMA beruntung karena perbedaan waktu yang besar di Rusia membuat mereka bisa meminta bocoran soal dari pelajar di daerah lain yang lebih dulu menjalankan ujian. Segera setelah menjalankan ujian EGE, para siswa dari daerah Dalniy Vostok (ujung Timur Rusia) mengirim foto-foto kertas ujian EGE di internet. Para siswa di bagian yang lebih Barat dapat mencontek dari foto itu. Hampir 4.000 kertas ujian dianulir tahun lalu akibat kecurangan tersebut.
Kasus di Indonesia: Kunci Jawaban di berikan oleh pihak tertentu di sekolah, agar muridnya lulus 100 %

Pemblokiran halaman situs yang memberikan jawaban dan foto ujian EGE tidak menyelesaikan masalah. Anggota legislatif Rusia menawarkan penggunaan FSB (Badan Intelejen Rusia) untuk menangkap para pelanggar serta memberi sanksi administratif dan denda tinggi bagi mereka yang melanggar kerahasiaan ujian EGE. Namun, tindakan tersebut belum mendapat dukungan dari pemerintah.

Untuk menyelesaikan masalah ini, rencananya sekolah akan dilengkapi dengan metal detector agar para siswa tidak bisa membawa telepon genggam saat ujian. Selain itu, sinyal telepon juga akan diblokir sebagai alat tindakan preventif bagi mereka yang berhasil membawa ponsel ke ruang ujian.



Komentar: Apa yang terjadi di Rusia mirip dengan yang terjadi di Indonesia, malah bisa lebih buruk lagi.

Sumber: Anastasia Maltseva, RBTH , 22 June 2014

Baca juga ini


No comments: